Monday, 12 December 2011

Apabila Kita Marah oleh ahmad faiz

Perasaan marah, satu perasaan yang kita tidak dapat lari daripadanya. Marah datang tanpa diduga. Yang penting adalah bagaimana kita mengawal dan menghadapi marah. Sekiranya kita tidak tahu caranya, banyak kesan negatif yang akan berlaku.
Akibat daripada kita tidak mampu mengawalnya, mungkin orang yang tidak bersalah pula menerima gelombang marah itu, terutamanya orang yang berada hampir dengan kita, mungkin isteri atau suami tersayang, mungkin anak tersayang, mungkin adik-beradik atau rakan-rakan. Mereka juga mungkin menyalah tafsir gelombang marah tersebut.
Tentang Marah
Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya ada seorang lelaki berkata kepada Nabi s.a.w.: "Berilah wasiat padaku."
Nabi s.a.w. bersabda: "Jangan marah." Orang itu mengulanginya berkali-kali tetapi Nabi s.a.w. tetap bersabda: "Jangan marah." (Riwayat Bukhari)
Yang perlu dijelaskan sehubungan dengan hadis ini ialah:
(a) Orang yang bertanya itu menurut riwayat ada yang mengatakan dia itu ialah Ibnu Umar, ada yang mengatakan Haritsah atau Abu Darda'. Mungkin juga memang banyak yang bertanya demikian itu.
(b) Kita dilarang marah apabila berhubungan dengan sesuatu yang hanya mengenai hak diri kita sendiri atau hawa nafsu. Tetapi jika berhubungan dengan hak-hak Allah S.W.T, maka wajib kita pertahankan, misalnya agama Allah S.W.T dihina orang dan al-Quran diinjak-injak, dengan cara yang syar'ie dan berhikmah.
(c) Yang bertanya itu mengulangi berkali-kali seolah-olah meminta wasiat yang lebih penting, namun Rasulullah S.A.W  tidak menambah apa-apa. Hal ini kerana menahan marah itu sangat besar manfaat, faedah, juga ganjaran di sisi Allah S.W.T.
Allah S.W.T berfirman yang bermaksud:
(Iaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang mahupun sempit, dan orang-orang yang menahan kemarahannya dan memaafkan (kesalahan) manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Ali 'Imran: 134)
Allah S.W.T menjanjikan cinta-Nya sebagai ganjaran. Tidak mahukah kita akan ganjaran tersebut?
Tidak mahukah kita akan cinta-Nya, seagung-agung cinta, seindah-indah cinta?
Mari kita perhatikan langkah-langkah yang boleh kita ambil untuk mengawal perasaan marah kita.
Diam
Mengambil sikap diam, hal ini sebagaimana sabda Nabi S.A.W:
Apabila salah seorang antara kalian marah maka hendaklah dia diam. (Hadis riwayat Imam Ahmad)
Seringkali apabila manusia marah, sukar baginya untuk menuturkan kata-kata yang baik. Maka kita disuruh untuk mendiamkan diri, seterusnya ambil langkah-langkah di bawah, dan berfikir sejenak.
Istia'zah
Firman Allah S.W.T yang bermaksud:
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayangi bisikan/fikiran jahat daripada syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya). (Al-A'raaf: 200-201)
Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah S.W.T.
Godaan dan bisikan jahat syaitan itu tujuannya hanya satu, agar kita melakukan perkara yang buruk dan meninggalkan perkara yang baik. Maka berlindunglah kita kepada Allah S.W.T dengan menyebut:
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
Dari Sulaiman bin Shurad r.a. katanya:
Saya duduk bersama Nabi s.a.w. dan di situ ada dua orang yang saling maki-memaki. Salah seorang dari keduanya itu telah merah padam mukanya dan membesarlah urat lehernya, kemudian Rasulullah S.A.W bersabda:
"Sesungguhnya saya mengetahui suatu kalimat yang apabila diucapkannya, tentulah hilang apa yang ditemuinya (kemarahannya), iaitu andaikata dia mengucapkan: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم, tentulah lenyap apa yang ditemuinya (kemarahannya) itu."Seseorang lalu berkata kepadanya (orang yang merah padam mukanya): "Sesungguhnya Nabi S.A.W. bersabda: Mohonlah perlindungan kepada Allah S.W.T dari syaitan yang direjam." (Muttafaq'alaih)
Kita juga boleh membaca ayat Kursi dan tiga surah Qul.
Duduk
Rasulullah S.A.W bersabda:
Apabila salah seorang antara kalian marah sedangkan dia berdiri maka hendaklah dia duduk, agar kemarahannya hilang, apabila masih belum reda maka hendaklah dia baring. (Hadis riwayat Abu Daud)
Wudhuk
Sabda Rasulullah S.A.W:
Marah itu adalah bara api maka padamkanlah ia dengan berwudhuk. (HR Al-Baihaqi dan sebahagian ulama yang lain menghasankannya)

Tuesday, 15 November 2011

Hukum 'chatting', Facebook Chat Dengan Bukan Mahram....oleh shahidah sheikh ahmad

Saya ingin bertanya tentang hukum saya berkomunikasi dengan bukan mahram saya melalui internet samada 'chatting' atau perbualan-perbualan melalui facebook, email dan sebagainya. Saya seorang wanita muslimah yang masih menuntut di IPT. Bentuk perbualan saya selalunya bukan perkara penting; cuma sembang-sembang dan menyampuk-nyampuk maklumat yang ada dalam facebook mereka.
Begitu juga kawan-kawan lelaki saya akan membalas perbualan tersebut. Begitulah hari demi hari kami saling berhubungan tanpa sekatan di alam siber sedangkan di alam nyata kami menjaga batas-batas hubungan lelaki dan wanita bukan mahram ini.
- Gadis Muslimah
Terima kasih atas pertanyaan itu.
Gadis Muslimah dan semua wanita muslimah yang membaca soaljawab ini,
Sebagaimana yang kita  maklumi bahawa, komunikasi dengan tulisan melalui jaringan internet atau yang lebih dikenal dengan 'chatting' baru muncul dan popular beberapa tahun terakhir. Yaitu, tepatnya setelah ditemui jaringan internet. Karena itu dalam kitab-kitab ulama terdahulu khususnya buku fiqh, istilah ini tidak akan ditemui. Namun asas bagi hukum 'chatting' ini sebenarnya sudah dibahas oleh ulama, jauh sebelum jaringan internet ditemukan.
'Chatting' dengan lawan jenis yang bukan mahram sama halnya dengan berbicara melalui telepon, SMS, dan berkiriman surat. Semuanya ada persamaan. Iaitu sama-sama berbicara antara lawan jenis yang bukan mahram. Persamaan ini  juga mengandung adanya persamaan hukum. Karena itu, ada dua perkara berkaitan yang perlu kita bahas sebelum kita lebih jauh membicarakan hukum 'chatting' itu sendiri.
Pertama, adalah hukum bicara dengan lawan jenis yang bukan mahram.
Kedua, adalah hukum khalwat.
Berbicara antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram pada dasarnya tidak dilarang apabila pembicaraan itu memenuhi syarat-syarat yang sudah ditentukan oleh syara'. Seperti pembicaraan yang mengandungi kebaikan, menjaga adab-adab kesopanan, tidak menyebabkan fitnah dan tidak khalwat. Begitu jika hal yang penting atau berhajat umpamanya hal jual beli, kebakaran, sakit dan seumpamanya maka tidaklah haram.
Dalam sejarah kita lihat bahwa isteri-isteri Rasulullah SAW berbicara dengan para sahabat, ketika menjawab pertanyaan yang mereka ajukan tentang hukum agama. Bahkan ada antara isteri Nabi SAW yang menjadi guru para sahabat selepas wafatnya baginda iaitu Saidatina Aisyah RA.
Dalam hal ini, Allah SWT berfirman yang artinya:
"Karena itu janganlah kamu (isteri-isteri Rasul) tunduk(yakni melembutkan suara) dalam berbicara sehingga orang yang dalam hatinya ada penyakit memiliki keinginan buruk. Tetapi ucapkanlah perkataan yang baik". (QS. al-Ahzab: 32)
Imam Qurtubi menafsirkan kata  'Takhdha'na'  (tunduk) dalam ayat di atas dengan arti lainul qaul (melembutkan suara) yang memberikan rasa ikatan dalam hati. Yaitu menarik hati orang yg mendengarnya atau membacanya adalah dilarang dalam agama kita.
Artinya pembicaraan yang dilarang adalah pembicaraan yang menyebabkan fitnah dengan melembutkan suara. Termasuk di sini adalah kata-kata yang diungkapkan dalam bentuk tulisan. Karena dengan tulisan seseorang juga bisa mengungkapkan kata-kata yang menyebabkan seseorang merasakan hubungan istimewa, kemudian menimbulkan keinginan yang tidak baik.
Termasuk juga dalam melembutkan suara adalah kata-kata atau isyarat yang mengandung kebaikan, namun ia boleh menyebabkan fitnah. Iaitu dengan cara dan bentuk yang menyebabkan timbulnya perasaan khusus atau keinginan yang tidak baik pada diri lawan bicara yang bukan mahram. Baik dengan suara ataupun melalui tulisan.
Jika ada unsur-unsur demikian ia adalah dilarang meskipun pembicara itu mempunyai niat yang baik atau niatnya biasa-biasa saja.
Adapun khalwat, hukumnya dilarang dalam agama Islam. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW yang artinya:
"Janganlah ada di antara kalian yang berkhalwat dengan seorang wanita kecuali dengan mahramnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Khalwat adalah perbuatan menyepi yang dilakukan oleh laki-laki dengan perempuan yang bukan mahram dan tidak diketahui oleh orang lain. Perbuatan ini dilarang karena ia dapat menyebabkan atau memberikan peluang kepada pelakunya untuk terjatuh dalam perbuatan yang dilarang.
Kerana ada sabda Nabi SAW bermaksud:
"Tiadalah seorang lelaki dan perempuan itu jika mereka berdua-duaan melainkan syaitanlah yg ketiganya." (Hadis Sahih)
Khalwat bukan saja dengan duduk berduaan. Tetapi berbual-bual melalui  telepon di luar keperluan syar'i juga dikira berkhalwat. Karena mereka sepi dari kehadiran orang lain, meskipun fisikal mereka tidak berada dalam satu tempat. Namun melalui telepon mereka lebih bebas membicarakan apa saja selama berjam-jam tanpa merasa dikawal oleh sesiapa
Dan  haram juga ialah perkara-perkara syahwat yang membangkitkan hawa nafsu contohnya yang berlaku pada kebanyakkan muda-mudi atau remaja-remaja sekarang dimana sms atau email atau Facebook atau seumpamanya menjadi alat untuk memadu kasih yang memuaskan nafsu di antara pasangan dan masing-masing melunaskan keinginan dan keseronokkan semata-mata. Membincangkan perkara-perkara lucah lebih-lebih lagi hukumnya adalah haram.
Kesimpulan :
Hukum chatting sama dengan menelepon sebagai mana yang sudah kita terangkan di atas. Artinya chatting di luar keperluan yang syar'i termasuk khalwat. Begitu juga dengan sms. Walaupun dengan niat berdakwah. Karena berdakwah kepada jenis lawan bukanlah suruhan agama kerana Allah telah menetapkan untuk berdakwah kepada lelaki adalah lelaki juga, begitu juga sebaliknya.
Namun bila ada tuntutan syar'i yang darurat, maka itu diperbolehkan sesuai keperluan. Tentunya dengan syarat-syarat yang sudah kita jelaskan di atas. Di sinilah menuntut kejujuran kita kpd Allah dalam  mengukur sejauhmana urusan kita itu satu keperluan atau mengikut nafsu semata-mata. Dan kejujuran itu pula bergantung sejauhmana iman kita kepada Allah. Jika muraqabatillah kita kuat (yakni merasa diri sentiasa dalam pandangan Allah), maka itu yang akan menjadi pengawal kita. Jika tidak maka kita akan hanyut bersama orang-orang yang terpedaya dengan teknologi moden ini. Na'uzubillah.
Agak menyedihkan juga dengan kenyataan saudari, bahawa dalam suasana nyata saudari amat menjaga batas pergaulan dengan lelaki bukan mahram, namun di alam siber saudari bebas berbual mesra tanpa batasan syara'. Saya percaya ramai remaja muslimah yang terjebak ke dalam situasi yang syubhah ini.
Internet sangat baik untuk kita, dimana ia memudahkan banyak urusan kita tapi jika kita menyalahgunakannya akan membawa akibat buruk kepada akhlak dan masyarakat kita.
Semoga jawapan ini dapat memandu para muslim dan muslimah remaja atau dewasa dalam melayari kehidupan yang penuh ujian keimanan ini.
Alangkah bahagianya jika para remaja muslim dan muslimah yang terdiri daripada para intelek hari ini berpegang teguh kepada tali agama iaitu taat kepada perintah dan larangan Allah dalam setiap urusan hidupnya. Semoga dengan itu Allah akan menurunkan rahmah-Nya kepada kita semua.
Dan semoga Allah menjauhkan kita dari segala fitnah dunia yang sangat manis pada pandangan mata.
Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga mendapat manfaat.
Wallahu a'lam.
Ustazah Shahidah Sheikh Ahmad, IKRAM Johor